Selamat Datang di Pelatihan Website Sekolah


Selasa, 06 Agustus 2019

20.29

Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar

Prof. Dr. H. Arief Rachman salah satu pembicara dalam acara Bincang Perspektif bersama Trakindo untuk membahas perna sinergi sekolah, orangtua dan masyarakat untu membangun pedidikan karakter anak bangsa

Dengan derasnya arus dan pengaruh teknologi dalam hidup kita, dampak teknologi tentunya lebih terasa di zaman kini. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di Indonesia ini adalah upaya pemerintah, terutamanya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan pendidikan moral dan akhlak.

Tujuan dari adanya program kegiatan PPK ini adalah untuk membentuk pribadi siswa agar menjadi pribadi yang lebih baik dan siap untuk bersaing di era yang sangat global dengan caranya yang lebih kontektual. Lima nilai utama pada siswa sekolah dasar yang akan dikuatkan oleh PPK yaitu Nasionalis, Religius, Mandiri, Gotong Royong / lingkungan, dan Integritas.

Beberapa dampak positif dari Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah bagi siswa sekolah dasar ini diantaranya : 

1. Pemikiran yang fleksibel

Dengan perubahan cara pembelajaran bagi siswa sekolah dasar, siswa akan diajarkan untuk memiliki cara berpikir yang berbeda. Contohnya, daripada mengajukan pertanyaan yang bermulai dengan apa, siapa, bagaimana, di mana, mereka dapat mulai bertanya dengan cara yang menggambarkan pemikiran kritis yaitu dimulai dengan kalimat ‘bagaimana kalau?'.

2. Mempunyai hubungan baik

Karena pendidikan karakter anak usia dini mencakup dan mengajari nilai dasar etika, siswa sekolah dasar dapat mengimplementasikan ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.

3. Mampu menunjukan sisi emosional, sosial dan empati

Nilai gotong royong yang akan dipelajari oleh siswa sekolah dasar biasanya diterima dengan sia - sia namun dengan terapan program ini siswa dapat mempelajari kembali pentingnya membantu satu sama lain.

Baca juga : Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter di Sekolah

Maka dari itu, upaya pemerintah dengan cara PPK harus disambut dengan positif dikarenakan pendidikan mengenai watak seorang siswa tidak cukup untuk hanya diajarkan di rumah. Pelajaran ini akan sangat berguna bagi siswa sekolah dasar ini untuk masa depannya.

Namun, kerja sama dari pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat tentunya sangat dibutuhkan agar program ini berhasil. Seperti saran Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.,“Perwujudan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang berjalan dengan baik dapat menjadikan perkembangan karakter yang optimal bagi anak.”
20.26

Mimpi Anak-Anak Suku Laut Pulau Mensemut di Lingga Punya Sekolah

Anak-anak suku laut Pulau Mensemut berada di bangunan SDN 022 Senayang Kelas Jauh sebelum ambruk ditimpa pohon
Anak-anak suku laut Pulau Mensemut berada di bangunan SDN 022 Senayang Kelas Jauh sebelum ambruk ditimpa pohon (Batamnews.co.id/ist)

Berada jauh dari pusat desa, kondisi sarana dan prasarana pendidikan di wilayah pulau yang ada di Lingga, masih memprihatinkan. Seperti halnya dengan bangunan Sekolah Dasar (SD) di Pulau Mensemut, Desa Penaah, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga.

Di pulau yang dihuni warga suku laut asli tersebut, hanya berdiri bangunan sederhana yang difungsikan sebagai kelas. Bangunan sederhana berdinding kajang yang terbuat dari daun nipah dan dianyam itu kini jauh dari pantauan aparat pemerintah.

Sekolah berlantaikan tanah dan beratapkan daun rumbia awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat karena peduli terhadap pendidikan anak mereka.

Namun, sayangnya kini bangunan yang menjadi tempat generasi muda penerus bangsa itu menuntut ilmu, ambruk tertimpa pohon hingga hancur. Bangunan itu tidak bisa dijadikan sebagai tempat belajar lagi.

"Anak-anak suku laut di sana (Mensemut) mau sekolah dan belajar. Tapi mengingat sekolah induk yang berada di desa Penaah sangat jauh kalau untuk anak-anak itu berulang, makanya orangtua dan warga di situ punya inisiatif untuk membangun sekolah dengan swadaya," kata salah seorang aktivis suku laut Lingga, Densy Diaz kepada Batamnews.co.id, Rabu (26/9/2018).

Dia menjelaskan, ambruknya bangunan sederhana yang berdiri di atas pulau kecil di tengah laut lepas itu terjadi tepat pada 17 Agustus lalu. Kondisi itu pun sudah dilaporkan kepada kepala dusun setempat, tetapi belum ada respon.

"Anak-anak sekarang belajar sementara di bangunan musala. Saya dapat infonya dari istri ketua RT setempat. Saya juga kaget, kenapa baru sekarang dikasih tahu, ternyata mereka ini masih menunggu inisiatif dari desa," ujarnya.

Sementara itu, ia meminta Kepala SDN 022 Senayang tidak tinggal diam terkait permasalahan tersebut. Jangan sampai ada kesan pembiaran yang dilakukan terhadap bangunan tempat anak-anak menuntut ilmu itu.

"Saya sangat menyayangkan permasalahan ini," ucapnya.

Dengan demikian, ia berharap Dinas Pendidikan (Disdik) Lingga dapat segera mengambil langkah terkait kondisi bangunan SDN 022 Senayang kelas jauh itu bisa dimanfaatkan anak-anak suku laut asli menuntut ilmu.


20.22

Sekolah Kreatif Digital Berkembang Pesat di Tangerang

Peluncuran tempat belajar Creative Nest Indonesia, di The Breeze BSD, Kabupaten Tangerang. Liputan6.com/Pramita Tristiawati
Peluncuran tempat belajar Creative Nest Indonesia, di The Breeze BSD, Kabupaten Tangerang. Liputan6.com/Pramita Tristiawati

Anggota komunitas pencetak industri digital kreatif di kawasan Digital Hub BSD, bertambah lagi.

Group CEO Sinarmas Land, Michael Widjaja mengaku akan menggandeng lebih banyak lagi komunitas serupa yang bisa masuk kawasan 'Silicon Valey'-nya Indonesia.

"Kita tidak membatasi target, bisa sebanyak-banyaknya. Namun tidak sembarang, harus mereka yang memiki passion-nya, jadi punya passion atau semangat yang sama untuk membangun komunitas industri kreatif digital disini," tuturnya, saat menghadiri peluncuran tempat belajar Creative Nest Indonesia, di The Breeze BSD, Kabupaten Tangerang, Selasa (19/2/2019).

Michael melihat, Indonesia memiliki peluang kemajuan bisnis kreatif digital dan startup dengan melesat.

Terlebih pada era industri 4.0, sangat penting menyediakan tempat untuk mendukung SDM profesional penunjangnya.

"Jadi, sebelum terjun sebagai seorang profesional, menimba ilmu sebanyak-banyaknya di komunitas ini. Sekalipun dia sudah pernah belajar, bisa mengulangnya disini," kata Michael.

Tinggal pilih sesuai minat dan bakat, mulai dari tempat belajar khusus animasi, startup, video konten musik sampai film.

Maka tidak heran, para pebisnis ulung di bidang kreatif digital, berkumpul di Silicon Valey-nya Indonesia itu.

Sebut saja Alamanda Santika, eks VP Gojek yang kini mendirikan Binar Academy. Kemudian terbaru, mantan sutradara Patrick Effendy yang kini mendirikan Creative Nest Indonesia.

"Yang terpenting adalah, menyediakan tempat komunitasnya untuk saling bertemu, berdiskusi dan memiliki passion yang sama di bidang kreatifitas digital," tutur Michael.

Sementara, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia atau BEKRAF mengakui kurangnya SDM penggerak industri kreatif digital di Indonesia.

Padahal, potensi bisnis tersebut sangat besar dan sangat disayangkan bila tidak dimanfaatkan dengan baik oleh tenaga profesional.

"Yang ada sekarang, hanya sekedar tahu dari belajar di media sosial atau YouTube. Tidak deep learning, makanya, pemerintah masih sangat membutuhkan banyak sekali lembaga pendidikan kreatif digital," ujar Hari Sungkari, Deputi Infrastruktur, BEKRAF.

(Pramita Tristiawati/Jek)